Puisi Nurul Arifin (Cinta Tak Sebercanda Itu)

Nurul Arifin

Mentas waktu diantara kotak-kotak peristiwaku untukmu

Aku mengenang segala apa yang masih tersisa

Tentang tumpukan kenangan yang berubah jadi sesak dimalam enggan menjadi pagi

Aku melangkah jauh

Menghentikan waktu sesaat

Menemukan pandanganmu

Diawal aku belajar mengeja nama mu

Aku masih ingat

Tentang bulatan bola-bola jingga yang kau kenakan

Tentang takutmu kepadaku

Tentang candaku yang menjelma menjadi senyum, senyum yang selalu menyertaiku setelahnya

Masih ingat, tentang korek api

Sepercik api yang mengeluarkan nada

Kujelma menjadi suara yang maya

Aku mulai hafal dengan suaramu saat itu

Untuk hal ini

Aku yakin kau tak mampu menjadikannya lupa

Aku meninggalkan dirimu sesaat

Dengan rasa yang masih belum selesai kau tuntaskan

Hanya tagihan buku dan nomor telpon yang kupunya darimu

Jarak masih berpihak padaku

Buktinya kau masih rajin menagih keadaanmu

Tanpa keberatan kamu menjelaskan sampai matahari pagi menyilaukan perbincangan kita

Aku disini dan kau disana

Bukan kuliah

Apakah masa depan yang ditawarkan oleh rutinitas itu

Salah satunya adalah kamu

Yang mengalasankan aku kembali ketempat semula

Menggulung jarak dengan hikmat

Kita akhirnya bertemu

Malam saat itu, tagihan buku

Kuselesaikan pertemuan kita di ujung tangga belokan kiri

Setelahnya…

Kau menyempurnakannya dalam perbincangan telpon

Malam itu juga

Rindu semakin bertabuh

Kau berdendang riang diantara sesak yang indah dalam degupku

Pertama kali kau datang karnaku.

Tinggalkan Balasan

Kebijakan berkomentar: Komentar disambut dan didorong. Namun, semua komentar dimoderasi secara manual dan yang dianggap sebagai spam atau hanya bersifat promosi akan dihapus.